Aku Kirana, si gadis pecinta senja. Begitu orang-orang memanggilku.
Aku tidak tahu dari mana asal muasal pangilan itu, tapi aku suka. Senja memang menjadi satu hal yang aku nantikan di hampir setiap harinya. Apalagi sembari ditemani secangkir kopi hangat, nikmatnya tiada tara. Menulis adalah hobiku, entah sejak kapan aku menyukai itu. Sejak kecil aku ingin sekali bisa menerbitkan satu buku hasil karyaku, tapi semakin dewasa aku rasa minatku untuk menulis mulai berkurang. Mungkin karna kesibukan dengan rutinitas sehari-hariku yang super padat, atau mungkin juga karna aku tidak pernah bisa menyelesaikan satu karya tulisku hingga benar-benar selesai. Semua berakhir gantung dan kehabisan ide cerita, membuat rasa malasku semakin parah.
Saat hobi menulisku perlahan kutinggalkan, aku mulai mencari hal-hal baru yang bisa mengisi waktu kosongku. Menggali potensi dan mencari tahu passion apa yang aku miliki. Dan aku tersadar, diusiaku yang sudah menginjak angka 20, aku belum pernah merasakan indahnya cinta. Mungkin aku bisa membayangkan dan merasakan apa itu cinta melalui film-film romantis favoritku, atau membaca novel-novel kisah cinta remaja yang di rekomendasikan sahabat-sahabatku, atau dengan carab yang lebih realistis yaitu mendengar cerita-cerita dari pengalaman temanku tentang hubungan mereka dan kekasihnya.
Sempat aku berfikir, “apa hanya aku yang terjebak pada rasa nyaman terhadap kesendirian?” bahkan, aku tidak pernah cemburu melihat satu persatu teman baikku memperkenalkan kekasihnya kepadaku. Bahkan ketika mereka sibuk mengukir kisah cinta seperti pasangan muda yang sedang di mabuk asmara, aku hanya sibuk memikirkan ambisiku yang besar tentang hidup tenang di masa tua. Entahlah apa aku butuh seorang pendamping untuk masa tuaku, atau aku cukup menikmati senja dengan secangkir kopi seorang diri.
Hembusan angin yang menyentuh kulit, langit jingga di penghujung hari, dan suara kicauan kawanan burung membuatku merasa tenang. Itulah gambaran senja yang tertanam di benakku. Indah dan menenagkan. Aku rasa, aku mampu menjalani hidup seorang diri tanpa kekasih. Itu fikiranku kala itu, tapi..
Pada suatu hari, saat aku kehilangan arah dan tujuan. Saat sesuatu yang aku jadikan alasan dan fokus utama dalam hidup tak lagi berarti. Aku terpuruk dan hancur. Hidupku dan semua pola pikirku berubah 180 derajat. Cinta yang aku fikir hanya bualan semata, kini menjadi hal yang aku dambakan.
Aku mendengar beberapa curhatan teman-temanku yang mengatakan, “Saat aku buntu dan hilang arah, aku mencurahkan semua kegundahan pada kekasihku. Dan aku merasa lega setelahnya."
Selama ini, yang aku tahu bahwa aku terlalu kuat dan mandiri sebagai seorang wanita. Seolah-olah aku tidak butuh apapun dari seseoarang yang bisa disebut “Kekasih” untuk membantu menyelesaikan segala kegundahanku.
Aku lupa bahwa aku adalah seorang manusia. Yang berarti aku makhluk sosial. Aku tidak mungkin menghabiskan sisa umurku hanya seorang diri. Tapi aku juga tidak tahu harus memulai dari mana.
Temanku yang selalu setia membantuku. Mencarikan pria yang tepat untukku, memperkenalkanku dengan teman prianya. Walaupun tidak satupun berhasil. Mencari sesorang yang pas di hati memang sulit. Tapi harap tidak pernah pudar, aku terus berusaha sembari berdoa. Dan menunggu jawaban dari Tuhan atas segala doa-doaku. Beberapa bulan aku mencoba hal-hal baru dan berharap menemui kenalan baru yang mungkin bisa saja dia menjadi jodohku, tapi usaha ku belum berbuahkan hasil. Aku mulai kembali terbiasa pada kesendirianku. Entah apa yang salah pada diriku. Dan aku memutuskan untuk mencari kebahagiaan ku sendiri.
Ada rutinitas baru dihidupku. Aku mulai suka menghadiri dan bergabung dalam kegiatan-kegiatan sosial. Untuk mengisi waktu luangku ketika libur kuliah juga tentunya. Kegiatan sosial yang aku lakukan juga berbagai macam seperti, menolong korban-korban bencana, mengunjungi panti-panti sosial, menjadi tenaga pengajar sukarelawan di kota-kota pedalaman, dan masih banyak lagi. Pengalaman tak terduga yang aku dapatkan saat aku aktif di komunitas tersebut adalah ketika aku tanpa sengaja bertemu dengan teman kecilku yang sudah sangat lama tidak aku temui. Bahkan aku sangat pangling dibuatnya, dia yang lebih dulu menyapaku.
Katanya, “tak banyak yang berubah dari dirimu, mata hitam bulat dan senyum manis dengan lesung pipi itu masih sama.”
Sontak saja aku terdiam dan menoleh ke arah suara itu bersal. Aku terdiam dan tanpa aku sadari, mataku mulai berkaca-kaca. Mulutku hanya diam dan bibirku tersenyum tipis.
“Arkan?”, tanyaku padanya.
“Aku fikir kamu lupa padaku, aku ingin ngobrol banyak denganmu tapi setelah kita selesaikan semua tugas ini dulu ya”, jelas arkan sembari membantuku mengangkat barang-barang logistik di camp pengungsian.
Sudah dua hari aku menjadi seukarelawan di kampung itu, kebakaran hebat menghabisakan 2 desa dalam satu malam. Dan komunitas yang aku ikuti turut membantu para korban semaksimal mungkin. Aku mendapatkan tugas di bagian Logistic. Dan Arkan, aku tidak tahu bagaimana dia bisa ada disana bersama ku.
Setelah semua tugas ku tuntaskan, aku meminum secangkir air hangat sembari menikmati angin malam yang sendu di depan camp pengungsian. Wajah seorang anak terlihat sedang berupaya mengatasi trauma mendalam yang dialaminya. Terdengar pula keluh kesah beberapa pasang suami isteri yang berdiskusi dan kebingungan akan tinggal dimana mereka setelah ini. Aku berjalan perlahan menjauhi camp karena aku tak mampu melihatnya lebih lama lagi. Hati ku seolah teriris piasau belati ketika mendengarnya. Sangat sendu suasana pengungsian malam itu. Ku tatap pekat langit malam, tidak ada bintang yang menghiasinya dan hanya ada bulan sendiri saja.
“Apa kabar kamu, Na? sudah lama sekali kita tidak berjumpa. Aku merindukanmu, sungguh.”, suara Arkan terdengar begitu dekat. Dia sudah berada persis di belakangku rupanya.
Tanpa menoleh ke belakang, aku menjawab, “Baik, kamu apa kabar?”
“Seperti yang kamu lihat, aku sehat dan tumbuh dewasa. Dan seperti yang kamu katakan dulu, ingin memulai semuanya ketika kita dewasa. Kamu ingat?”, Tanya Arkan padaku.
Sekali lagi, pertanyaan dan kata-kata mengejutkan terlontar dari mulut Arkan. Dan aku masih tetap tidak ingin membalik badan untuk menatapnya. Karna air mataku mulai jatuh saat itu. Aku sangat merindukannya, tapi aku terlalu benci untuk mengatakannya. Suara langkah kaki mendekatiku, aku merasakan aroma tubuhnya.
“Maafkan aku yang tidak menepati janji untuk kembali sebelum kamu mencari. Aku terlalu sibuk memikirkan diriku sendiri, memantaskannya untukmu. Agar saat aku kembali, aku sudah dewasa seperti yang kamu mau”, Jelas Arkan tanpa henti. Kali ini, Arkan sudah berada persis di sampingku dan berdiri menatapku. “Jangan nangis, Na. Aku sudah disini.”
Sambil menyeka air mataku, aku memberanikan diri menatap kedua bola matanya. “Bagaimana bisa kamu ada disini?”, tanyaku sembari menahan emosi yang hampir tidak bisa ku kendalikan.
“Memang kamu butuh penjelasan itu?”, Tanya Arkan padaku.
Tanpa menjawab, aku berbalik badan hendak pergi meninggalkan Arkan.
“Kamu percaya takdir? Pikiranku bahkan sudah buntu, aku tidak tahu harus mencari kamu kemana lagi. Aku pasrah jika ternyata Tuhan tidak menjadikan kita satu. Aku pasrah bila akhirnya yang kudengar keluh kesahmu tentang rumah tanggamu bersama pria lain. Tapi, Tuhan memberi jawaban yang aku mau, aku bertemu kamu di tempat yang tidak pernah aku duga sebelumnya. Dan aku yakin, kamu belum milik siapapun saat ini.” Arkan memberi jawaban atas pertanyaanku, seolah ingin menghentikan langkah kaki ku agar tetap bersamanya.
“Syukurlah kalau tuhan masih mau menjawab doa orang sejahat kamu, Kan. Kamu jahat, kamu sadar itu?”, Ucapku.
“Hanya maaf yang bisa aku ucap, Na. Karena aku sadar aku tidak akan mampu memutar waktu.”, Jelasnya singkat.
“Arkan kamu tahu, aku selalu menunggu kamu. Di setiap aktifitas yang aku lakukan, sesibuk apapun itu. 13 tahun lamanya, kamu janji akan datang saat senja. Setiap hari, sepulang sekolah aku berlari ke atas rumah pohon kita dan berharap kamu ada disana. Dan aku masih menikmati senja sampai saat ini, dimanapun aku berada. Walau bukan di atas rumah pohon itu lagi.”, Jelasku sambil menahan air mata yang sudah menggenang. “Aku berbohong pada diriku sendiri, bahwa aku baik-baik saja dengan kesendirianku. Aku butuh kamu, Kan.”
Arkan memelukku erat. “Sekali lagi, maafin aku Na. Harusnya aku pamit. Tapi aku tidak mampu untuk melihat wajah kamu untuk terakhir kalinya.”, Ucap Arkan padaku.
Penantianku berakhir sudah. Kini aku sadari, bukan pria lain yang tak cocok denganku. Namun, aku yang telah menutup hati 13 tahun lamanya. Dulu aku memang belum mengenal cinta, tapi beranjak dewasa memang hanya ada satu nama di hatiku. Dialah Arkan, teman kecilku yang membuat aku jatuh cinta dengan senja dan dirinya pada waktu yang sama. Siapa sangka teman kecilku kini menjadi teman hidupku. TAMAT.
Tahun sejuta kenangan baru, begitu akan kusebut 2018 nantinya.
20 Januari 2018
Ke Dufan cuma nyobain 5 wahana karna hujan dan banyak wahana yg tutup. Waktu itu ada dokumentasinya tapi udah kehapus. Biar kan jadi kenangan untuk diri sendiri aja ya hehe ga ada fotonya maaf :)
25 Februari 2018
Ketemu teman baru dari group wa, meet up pertamanya di istiqlal. The Power of Muslimah. Mereka kumpulan wanita hebat yang memutuskan untuk hijrah dan tidak mengenal pacaran. Tapi ntah kenapa tiba-tiba saya dikeluarkan dari group (mungkin karna jarang merespond chat mereka). Karna saya tipikal yg males buka chat di sosmed, maaf ya. Tapi saya akui mereka luar biasa, senangnya sempat mengenal mereka.♡
26 Maret 2018
Hari pertama Training di Kidzania, pertama kali naik bus transjakarta sendirian. Bertemu banyak teman baru, dan ini juga menjadi awal dari banyaknya hal luar biasa yg terjadi sepanjang 2018. Kalau foto dibawah itu pas nebeng sama temen se-batch yang rumahnya searah sama gue.
6 April 2018
Hari terakhir training di Kidznia, sekaligus hari terakhir foto batch full team. Setelahnya kita sibuk dengan area masing-masing. Tapi Alhamdulillah silaturahim masih tetap terjaga.
15 April 2018
Jalan-jalan ke bogor naik kereta bareng Risma dan Navisa. Ke kebun raya bogor. Ini juga kali pertama gue naik kereta ke luar kota (walau cuma kebogor), bersama teman lama dan menghabiskan 1 hari bersama.
29 Mei 2018
Buka puasa bareng Rika, Prysky dan Amal di Rooftop Semanggi. Ga ada foto bareng berempat waktu itu karna ga ada yag fotoin :')
15 Juni 2018
Lebaran 2018, cucu-cucu dan anak-anak oma ga lengkap. Tahun ini lebarannya kurang terasa, pertama kalinya juga lebaran pisah dari papa.. Semoga tahun depan lebih baik ♡♡
19 Juni 2018
Meetup sama Amal, sekalian nemenin gue belanja :)
Hidup memang penuh dengan misteri, tak ada yang tahu tentang apa yang akan terjadi kepadaku, siapa yang akan pergi meninggalkanku, tentang mereka yang tiba-tiba hadir mengisi setiap helai lembar cerita hidupku.
Faktanya, orang memang akan datang dan pergi ke dalam kehidupan silih berganti. Ku nikmati saat-saat itu. Detik demi detik, hari demi hari selama masih ada kesempatan untuk menghabiska banyak cerita bersama orang-orang terbaik yang tuhan kirimkan untukku.
Karna ku tahu, semua itu akan pergi saat tiba waktunya. Menjadi yang terbaik untuk merekapun akan selalu ku usahakan
Berharap suatu hari nanti aku bisa menjadi kenangan manis yang akan selalu mereka kenang.
Fyuh, udah berapa abad gue ga ngepost? Kangen banget ngeblog, tapi emang beberapa bulan terakhir ini jadwal gue lagi padat banget dan badan gue lagi sering-seringnya linu karna capek. So, sekarang baru banget ada waktu buat ngeblog dengan fikiran yang jernih dan tubuh yang fit HAHA..
Beberapa waktu lalu tepatnya tanggal 23 Maret 2018, gue dapet panggilan training kerja di KidZania Jakarta. Kabar baik ini udah gua wanti-wanti banget dari bulan januari, dan Alhamdulillah di telepon juga. Gue girang banget tuh, walaupun dalem hati "gue kesana naik apa ya? Males banget naik busway yang super duper padet di hari kerja!" Tapi gue buru-buru tolak pikiran kayak gitu, gue ga boleh ngeluh, akhirnya gue memutuskan buat naik busway juga. Di hari pertama training yaitu tanggal 26 Maret 2018,gue naik busway ke Pacific Place, turun di halte Polda terus jalan ke Pacific Place, nah pas lagi nunggu lift gue ketemu cowo yang pakainnya sama kayak gue. Dan cowo itu tiba-tiba langsung negur gue "Training juga ya?" Gue ngangguk. Setelah itu kita ngobrol beberapa hal tentang kesibukkan kita sebelum di panggil training di sana, sambil menunggu waktu. Soalnya, gue dateng 20 menit sebelum jam training di mulai.
Hari pertama, tepat pukul 09.00, kelas training dimulai. Diawali dengan perkenalan diri masing-masing trainer, kemudian materi tentang perkenalan perusahaan, lanjut ke ishoma pukul 12-1 siang, di lanjutkan ke materi pembekalan dan terkahir pulang jam 4 sore.
Hari kedua ga jauh berbeda, tapi di hari kedua gue ga naik busway melainkan nebeng temen sekelas (kelas trainer) yang ternyata tempat tinggalnya ga begitu jauh dari rumah gue. mulai jam 9 pagi kita sudah mulai pembekalan lagi dan di lanjutkan company tour atau di KidZania biasa di sebut City Tour lalu ishoma, dan latihan dancing and singing. Di hari kedua juga sudah dapat pembagian wilayah kerja. Masing-masing trainer sudah ditentukan wilayah/area kerjanya nanti. Kemudian jam 4 sore gue udah otw pulang. Dan pulangnya bareng lagi sama temen gue itu.
Hari ketiga, gue masih berangkat bareng temen naik motor. Jam 9 pagi training di mulai, hari ketiga aktifitas di ruang training sudah mulai padat. Diawali dari latihan dancing, singing, beberapa games dan penghafalan DI (script). Kemudian terus seperti itu sampai pulang jam 4 sore.
Hari keempat, gue tetep berangkat bareng temen gue. Jam 9 aktifitas training di mulai, hari ke empat adalah hari simulasi DI, dimana script yang udah di kasih ke masing-masing trainer akan di simulasikan satu persatu di depan kelas. Tes singing dancing pun tetap dilatih terus dan diselingi beberapa games agar tidak bosan, suasana kelaspun menjadi lebih enjoy dan menyenangkan. Karna hari jumat libur nasional, kelas di tiadakan. Setelah selesai aktifitas di hari ke empat, gue dan 7 temen gue lainnya nongkrong dulu di KTS seberang Beer Garden sambil menunggu hujan reda. Yang biasanya jam 5 gue udah dirumah, hari kamis jam 8 malem gue baru balik dari KTS. Dan tiba dirumah jam 9 lewat.
Karna jumat, sabtu dan minggu di liburkan. Gue mulai masuk training di senin depannya. Gue berangkat bareng temen gue, dan aktifitas training hari itu adalah simulasi penentuan untuk nantinya kita akan di turunkan ke lapangan (pekerja operasional). Untuk penilaian penentuan itu, hanya di pilih 2 orang secara acak yang akan di test kembali hafalan DI nya di depan kelas. Dan gue udah tebak salah satunya pasti gue! Dan bener aja, gue dan temen gue namanya wira lah yang di test untuk mewakili teman-teman lainnya.
Di hari kelima, akhirnya untuk pertama kali gue dan temen-temen gue turun ke lapangan. Gue akan praktikan langsung apa-apa yang udah gue dapetin di kelas training. Gue kebagian area 4 bareng temen gue, April. Tapi gue dan april beda establishment. Gue establishment Dunlop Pro Tires Shop sedangkan April di establishment Mitsubishi Test Drive.
Setelah kurang lebih 4 jam merasakan aktifitas selayaknya operasional sungguhan, jam 3 gue dan temen-temen trainer lainnya disuruh kembali ke kelas training dan menceritakan pengalaman kita di lapangan. Rata-rata mereka merasa senang, tapi ada beberapa yang merasa di jutekin. So no problem, it's our first time. Don't give up and keep going.
Kemarin tanggal 16 September 2017, gue di ajak nyokap untuk ikut aksi bela Rohingya di depan Monas. Gue semangat banget soalnya ini menjadi pengalaman baru di hidup gue. Gue ga pernah tau gimana rasanya menjadi peserta aksi karena selama ini gue cuma nonton lewat layar kaca aja. Entah itu aksi buruh, mahasiswa, dll. Oke, langsung aja gue mau ceritain pengalaman gue itu dari beberapa foto yang gue abadikan. Maaf jika kualitas fotonya ga bagus, karena gue fotonya pake handphone bukan kamera.
Gue sama nyokap ke monas naik kendaraan umum, dari rumah gue naik mikrolet ke arah terminal kampung melayu, setelah itu gue sama nyokap naik kopaja ke arah Tanah Abang dan turun tepat di depan gedung Wisma Antara. Sepanjang perjalanan lancar, dan ga macet sama sekali, mungkin karena masih pagi juga kali ya jadi jalanan belum terlalu padat.
Gedung Wisma Antara posisinya depan Monas banget, so gue sama nyokap langsung jalan menuju panggung yang berada di seberang gedung Wisma itu. Kita sampe disana jam 07.46 sedangkan acaranya mulai jam 09.00, jadi pas gue sampe di dekat panggung belum terlalu banyak peserta aksinya. Kagumnya, banyak banget anak kecil dan anak muda yang ikut aksi tersebut. Walaupun gue yakin yang anak kecil mungkin belum terlalu tau apa yang lagi mereka lakukan, atau apa itu Rohingya tapi semangat mereka luar biasa.
Gue juga nemuin beberapa tenda/posko yang didirikan beberapa Organisasi Muslim untuk memberi tempat istirahat/sekedar tempat berteduh para peserta aksi yang membawa anak kecil dan bayi. Beberapa posko tersebut juga membagikan Air Mineral dan Snack untuk para peserta terutama orang tua dan anak kecil. Gue salut sih, ini cuma aksi kecil dan ga sebesar Aksi 212 yang fenomenal tapi harmonis banget. Pengalaman baru banget lah di hidup gue.
Aksi ini berlangsung sampai jam 12an, tapi jam setengah 12 gue dan nyokap udah ninggalin panggung dan kerumunan peserta aksi untuk ngejarin waktu sholat dzuhur. Setelah sholat di musholla terdekat gue dan nyokap balik lagi ke tempat aksi tadi, tapi ternyata udah pada selesai dan bubar. Akhirnya gue dan nyokap pulang naik kereta dari stasiun Juanda, btw gue ke juandanya ga jalan kok tapi naik taxi online udah gitu supirnya jutek parah ish. Kenapa ya makin kesini supir taxi online makin banyak pemberitaan ga benernya, sikap supirnya juga udah ga seramah dulu saat taxi online baru di operasikan?! Ga profesional.
Udah segitu aja pengalaman gue kemarin, selain jadi pengalaman baru yang sangat menyenangkan buat gue, kemarin juga jadi quality time gue sama nyokap yang udah lama banget ga jalan berduaan seharian. Lovely day banget deh pokoknya.
Gue sama nyokap ke monas naik kendaraan umum, dari rumah gue naik mikrolet ke arah terminal kampung melayu, setelah itu gue sama nyokap naik kopaja ke arah Tanah Abang dan turun tepat di depan gedung Wisma Antara. Sepanjang perjalanan lancar, dan ga macet sama sekali, mungkin karena masih pagi juga kali ya jadi jalanan belum terlalu padat.
Gedung Wisma Antara posisinya depan Monas banget, so gue sama nyokap langsung jalan menuju panggung yang berada di seberang gedung Wisma itu. Kita sampe disana jam 07.46 sedangkan acaranya mulai jam 09.00, jadi pas gue sampe di dekat panggung belum terlalu banyak peserta aksinya. Kagumnya, banyak banget anak kecil dan anak muda yang ikut aksi tersebut. Walaupun gue yakin yang anak kecil mungkin belum terlalu tau apa yang lagi mereka lakukan, atau apa itu Rohingya tapi semangat mereka luar biasa.
Gue juga nemuin beberapa tenda/posko yang didirikan beberapa Organisasi Muslim untuk memberi tempat istirahat/sekedar tempat berteduh para peserta aksi yang membawa anak kecil dan bayi. Beberapa posko tersebut juga membagikan Air Mineral dan Snack untuk para peserta terutama orang tua dan anak kecil. Gue salut sih, ini cuma aksi kecil dan ga sebesar Aksi 212 yang fenomenal tapi harmonis banget. Pengalaman baru banget lah di hidup gue.
Aksi ini berlangsung sampai jam 12an, tapi jam setengah 12 gue dan nyokap udah ninggalin panggung dan kerumunan peserta aksi untuk ngejarin waktu sholat dzuhur. Setelah sholat di musholla terdekat gue dan nyokap balik lagi ke tempat aksi tadi, tapi ternyata udah pada selesai dan bubar. Akhirnya gue dan nyokap pulang naik kereta dari stasiun Juanda, btw gue ke juandanya ga jalan kok tapi naik taxi online udah gitu supirnya jutek parah ish. Kenapa ya makin kesini supir taxi online makin banyak pemberitaan ga benernya, sikap supirnya juga udah ga seramah dulu saat taxi online baru di operasikan?! Ga profesional.
Udah segitu aja pengalaman gue kemarin, selain jadi pengalaman baru yang sangat menyenangkan buat gue, kemarin juga jadi quality time gue sama nyokap yang udah lama banget ga jalan berduaan seharian. Lovely day banget deh pokoknya.






























