Beberapa hari yang lalu, gua bertemu seorang teman. Usianya masih kisaran 18 tahun, kritis namun labil begitulah gua menggambarkan teman gua. Dia bercerita tentang keinginannya dan keluh kesahnya terhadap masa depannya nanti. Katanya, dia ingin sekali tinggal di suatu Negara yang damai, melanjutkan pendidikan disana kemudian menetap. Dari cara bicaranya seolah dia tidak ingin menginjakkan kakinya kembali ke Negeri ini karna terlalu muak. Dia muak dengan semua drama di Negeri ini dan bersikap seolah dia tidak peduli. Mungkin kalau saja temen gua ini bertemu dengan diri gua 3 atau 4 tahun lalu, gua akan sangat senang dan sependapat dengannya. Bersikap seolah pikiran kritis kami adalah benar.
Gua pikir dulu cuma gua yang berkeinginan untuk pindah Negara dan menjadi kaum Diaspora dengan alasan Negara terlalu membebani generasi muda. Ternyata, gua menemukan orang lain yang satu tujuan dengan diri gua. Katanya dia juga muak dengan Negara dan hutangnya yang bejibun, anehnya pemerintah bukannya perlahan melunasi hutang-hutang tersebut tapi malah menambah hutang-hutang lainnya. Yang berakibat secara tidak langsung rakyatlah yang di harapkan untuk membantu melunasi hutang-hutang tersebut.
Mungkin bukan cuma gua dan beberapa orang yang gua kenal berfikir serupa, tapi ribuan pemuda pemudi diluar sana tentu pernah terfikir hal yang sama di dalam kepalanya. Tapi anehnya, dulu saat hasrat gua untuk pindah Negara begitu besar, di dukung dengan ego yang sangat tinggi gua merasa itu adalah hal tepat. Iya, tanpa sadar gua ternyata mengajak diri gua untuk menjadi seorang pengecut. Pemudi pengecut yang mencoba lari dari kenyataan. Fyi, keinginan gua untuk pergi itu saat usia gua masih belasan tahun. At least antara 3 sampai 4 tahun yang lalu.
Pola pikir anak muda apatis yang penuh dengan kemarahan dan egoisme yang tinggi ternyata ga sepenuhnya dapat didengar. Sekarang gua tau gimana perasaan orang-orang sekitar gua saat itu, saat gua dengan lantang mengemukakan keinginan gua untuk pergi karena muak dengan pemerintah, pergi karena benci sama para wakil rakyat yang rakus harta dan jabatan.
Namun, setelah gua telaah dan memutar sudut pandang. Ternyata gua ga akan sanggup untuk meninggalkan Negeri ini. Bahkan gua menemukan sebuah pertanyaan besar untuk diri gua, “sebesar apa kontribusi lo untuk Negeri sampai gua bisa seangkuh itu?” Ternyata jawabannya adalah, tidak ada. Lalu kenapa gua mengeluh sebelum menjalankan sesuatu. Kenapa gua menyerah bahkan jauh sebelum waktu untuk berperang di suarakan.
Sekarang gua paham kenapa rakyat Indonesia masih ingin bertahan dengan keadaan yang tidak menyehatkan ini. Malu gua kalo inget diri gua yang dulu, yang bersikap tanpa berfikir terlebih dahulu. Negeri ini kaya, sayang jika di telantarkan. Sayang jika jatuh ke tangan orang yang salah. Seharusnya gua berusaha untuk menjaga Negeri ini, dan memberikan kontribusi agar Negeri ini lebih maju dan terpandang. Bukan malah berfikir untuk pergi dan meninggalkan tanpa berbuat apa-apa.
Hidup memanglah tidak mudah, banyak cobaan yang akan atau telah dilalui. Senang, duka, sedih, dan tawa semuanya pasti pernah di rasakan. Seakan-akan menjadi kuat adalah Harus! Terlihat lemah adalah Hina! Semua orang berusaha untuk terlihat tetap tegar walau mungkin masalah yang sedang dihadapinya begitu berat. Lelah adalah biasa, ga mungkin kita tidak merasa lelah dengan semua masalah yang ada di depan mata. Tapi Menyerah bukan lah pilihan. Jangan tutupi kesedihanmu, jangan biarkan batinmu menahan semua itu. Keluarkanlah pada orang yang menurutmu tepat. Bukan berarti hidupmu harus di keluhkan setiap saat. Sulit memang untuk memahami maksud dari tulisanku, tapi tulisanku ini kubuat hanya untuk diriku sendiri. Jika mungkin di antara kalian merasaka hal yang sama, boleh jika tulisan ini kamu manfatkan untuk menguatkan dirimu juga.
"Kamu harus seperti besi", caraku menyemangati diri sendiri.
Iya besi! untuk menjadi kuat dan berguna, besi melalui proses yang sangat panjang. Biji besi di panaskan pada suhu yang sangat tinggi hingga mencair kemudian dibentuk, ada pula yang di proses menjadi baja. Dari besi dan baja, bisa berguna untuk membangun tempat tinggal, menjaga tanaman dan hewan hidup, dan masih banyak lagi. Ngerti maksudnya? Gada yang instan di bumi ini.
Untuk bisa bermanfaat bagi makhluk lain, kita harus melalui proses yang panjang dan mungkin menyakitkan. Tangismu sekarang adalah untuk tawamu nanti, dan Lelahmu sekarang adalah untuk bahagiamu nanti. Kamu boleh nangis senangis-nangisnya saat ini, keluarkan semua perasaan yang mengganggu hatimu biarkan dirimu melepaskan semua rasa sedih itu melalui air mata. Tapi, Cukup! setelah kamu rasa semuanya lega, berhentilah menangis dan seka air matamu. Lihatlah betapa luas dunia di luar sana, dan kamu harus menikmatinya. Jangan lupa kalau kamu tidak pernah sendirian. Tuhan melihatmu, Ia memantau dirimu. Bukan tak peduli, tapi Tuhan membiarkan kamu berkembang dan berusaha. Maka jangan lupa berdoa.
Masalah terkadang di ciptakan oleh pola pikirmu, ubah juga pola pikirmu menjadi lebih sederhana agar hidupmu terasa lebih ringan. Permasalahan yang sebenarnya bisa di tuntaskan dengan kepala dingin dan komunikasi yang baik, lakukanlah. Jangan di perumit, itu hanya akan membuat dirimu menderita. Kesalahan yang orang lain lakukan kepadamu, maafkanlah. Jika sulit, cari jalan keluar bersama kemudian ikhlaskan apapun hasil akhirnya. Itu juga dapat meringankan beban di hatimu. Jangan lupa tersenyum setiap pagi saat kamu terbangun dari tidur, itu juga cara memperbaiki mood agar senang menjalani hari.
Entahlah apa yang sedang aku tulis saat ini, hanya untuk menguatkan hati sendiri.
08.18.19
Hoi hoi.. setelah setahun lebih gue post “Pengalaman Training di Kidzania Jakarta part.1” gua baru sempet bikin part 2 nya setelah setahun lebih pula gua kerja disana. Semager itu mau lanjutin part 2 nya karna emang niat ga niat sih hehe. Tapi berhubung sekarang gua lagi niat pake banget, maka gua akan membagikan pengalaman gua tersebut.
Dengan kekuatan daya ingat gua yang pas-pasan, mungkin part 2 ini akan lebih singkat dan tidak detil atau mungkin tidak berurutan jalan ceritanya, but semoga tetep bisa dinikmati. Terkhusus bagi yang mau ngelamar disana atau sedang dalam masa training.
Gausah banyak cincong, langsung aja ya ke next day.
Terakhir itu di part 1 gua cerita hari pertama turun dan simulasiin DI kita. Ya hari itu cukup baik gua laluin, ga ada yang aneh-aneh juga. Waktu itu yang ngajarin gua pas pertama kali turun ada Bung Axl dan teh Wida. Next.. hari kedua gua Simulasi DI atau hari ke 6 gua training, gua ga inget detilnya gua berangkat dan pulang naik apa dan sama siapa. Tapi hari kedua itu ada sedikit kendala, yup jadi temen gua si April ada masalah gitu sama salah satu senior disana. Emang sih ga ada sangkut pautnya sama gua, tapi berhubung gua dan April masih satu Area ya otomatis gua kebawa-bawa karna dia temen sebatch gua. Tapi, itu masalah April dengan senior gua, so gua ga akan bahas disini karena bukan urusan gua juga sih.
Sekitar jam 3 sore kita tetep naik ke ruang training lagi dan masih sharing pengalaman hari kedua Simulasi. Setelah itu, pukul 4 sore kita pulang. Dan kita melakukan aktifitas yang sama selama kurang lebih 4 hari berturut-urut. Di hari ke 4, gua udah mulai terbiasa dengan visitor, dengan aktifitas DI gua ya walaupun pada kenyataannya saat gua praktek langsung dengan hafalan di DI itu sangat jauh berbeda. Sampai tiba di hari ke 5 simulasi dan hari Terakhir Training, ini adalah hari penentuan apakah gua “Lolos” Training atau “Gagal” dan jadi pengangguran lagi.
Ya tapi kalian pasti sudah bisa menebak gua LOLOS atau GAGAL karna di greeting tadi gua udah menyebutkannya.
nah, untuk nentuin LOLOS atau Ngga ini kita di test lagi semuanya secara keseluruhan. Dari DI, Singing, Dancing sampai pengetahuan tentang Product Knowladge. Khusus Product Knowladge, kita di test secara tertulis. Nanti para Trainer ngebacain soal gitu, dan kita dikasih waktu untuk ngejawab soal yng di dikte. Nah, kalo singing dancing sih di tesnya rame-rame gitu. Kita dibikin beberapa kelompok, nanti baru deh di test bareng-bareng.
Alhamdulillahnya semua temen-temen sebatch gua LOLOS dan ga ada yang gagal. Terus kita dikasih name tag gitu dan besoknya udah bisa mulai kerja serta bergabung dengan Area masing-masing. Jadi ada 6 Area gitu di kidzania. Gua sendiri kebagian Area 4, biasa di sebut "Funtastic Four".
Sedihnya gua baru bikin lanjutan part 2 nya ini setelah setahun lebih gua kerja disana dan udah one month notice gua mau resign. Seneng banget bisa bergabung sama temne-temen semua. Yang lebih dari temen, udah kayak keluarga sendiri. Khususnya Area 4.
Aku Kirana, si gadis pecinta senja. Begitu orang-orang memanggilku.
Aku tidak tahu dari mana asal muasal pangilan itu, tapi aku suka. Senja memang menjadi satu hal yang aku nantikan di hampir setiap harinya. Apalagi sembari ditemani secangkir kopi hangat, nikmatnya tiada tara. Menulis adalah hobiku, entah sejak kapan aku menyukai itu. Sejak kecil aku ingin sekali bisa menerbitkan satu buku hasil karyaku, tapi semakin dewasa aku rasa minatku untuk menulis mulai berkurang. Mungkin karna kesibukan dengan rutinitas sehari-hariku yang super padat, atau mungkin juga karna aku tidak pernah bisa menyelesaikan satu karya tulisku hingga benar-benar selesai. Semua berakhir gantung dan kehabisan ide cerita, membuat rasa malasku semakin parah.
Saat hobi menulisku perlahan kutinggalkan, aku mulai mencari hal-hal baru yang bisa mengisi waktu kosongku. Menggali potensi dan mencari tahu passion apa yang aku miliki. Dan aku tersadar, diusiaku yang sudah menginjak angka 20, aku belum pernah merasakan indahnya cinta. Mungkin aku bisa membayangkan dan merasakan apa itu cinta melalui film-film romantis favoritku, atau membaca novel-novel kisah cinta remaja yang di rekomendasikan sahabat-sahabatku, atau dengan carab yang lebih realistis yaitu mendengar cerita-cerita dari pengalaman temanku tentang hubungan mereka dan kekasihnya.
Sempat aku berfikir, “apa hanya aku yang terjebak pada rasa nyaman terhadap kesendirian?” bahkan, aku tidak pernah cemburu melihat satu persatu teman baikku memperkenalkan kekasihnya kepadaku. Bahkan ketika mereka sibuk mengukir kisah cinta seperti pasangan muda yang sedang di mabuk asmara, aku hanya sibuk memikirkan ambisiku yang besar tentang hidup tenang di masa tua. Entahlah apa aku butuh seorang pendamping untuk masa tuaku, atau aku cukup menikmati senja dengan secangkir kopi seorang diri.
Hembusan angin yang menyentuh kulit, langit jingga di penghujung hari, dan suara kicauan kawanan burung membuatku merasa tenang. Itulah gambaran senja yang tertanam di benakku. Indah dan menenagkan. Aku rasa, aku mampu menjalani hidup seorang diri tanpa kekasih. Itu fikiranku kala itu, tapi..
Pada suatu hari, saat aku kehilangan arah dan tujuan. Saat sesuatu yang aku jadikan alasan dan fokus utama dalam hidup tak lagi berarti. Aku terpuruk dan hancur. Hidupku dan semua pola pikirku berubah 180 derajat. Cinta yang aku fikir hanya bualan semata, kini menjadi hal yang aku dambakan.
Aku mendengar beberapa curhatan teman-temanku yang mengatakan, “Saat aku buntu dan hilang arah, aku mencurahkan semua kegundahan pada kekasihku. Dan aku merasa lega setelahnya."
Selama ini, yang aku tahu bahwa aku terlalu kuat dan mandiri sebagai seorang wanita. Seolah-olah aku tidak butuh apapun dari seseoarang yang bisa disebut “Kekasih” untuk membantu menyelesaikan segala kegundahanku.
Aku lupa bahwa aku adalah seorang manusia. Yang berarti aku makhluk sosial. Aku tidak mungkin menghabiskan sisa umurku hanya seorang diri. Tapi aku juga tidak tahu harus memulai dari mana.
Temanku yang selalu setia membantuku. Mencarikan pria yang tepat untukku, memperkenalkanku dengan teman prianya. Walaupun tidak satupun berhasil. Mencari sesorang yang pas di hati memang sulit. Tapi harap tidak pernah pudar, aku terus berusaha sembari berdoa. Dan menunggu jawaban dari Tuhan atas segala doa-doaku. Beberapa bulan aku mencoba hal-hal baru dan berharap menemui kenalan baru yang mungkin bisa saja dia menjadi jodohku, tapi usaha ku belum berbuahkan hasil. Aku mulai kembali terbiasa pada kesendirianku. Entah apa yang salah pada diriku. Dan aku memutuskan untuk mencari kebahagiaan ku sendiri.
Ada rutinitas baru dihidupku. Aku mulai suka menghadiri dan bergabung dalam kegiatan-kegiatan sosial. Untuk mengisi waktu luangku ketika libur kuliah juga tentunya. Kegiatan sosial yang aku lakukan juga berbagai macam seperti, menolong korban-korban bencana, mengunjungi panti-panti sosial, menjadi tenaga pengajar sukarelawan di kota-kota pedalaman, dan masih banyak lagi. Pengalaman tak terduga yang aku dapatkan saat aku aktif di komunitas tersebut adalah ketika aku tanpa sengaja bertemu dengan teman kecilku yang sudah sangat lama tidak aku temui. Bahkan aku sangat pangling dibuatnya, dia yang lebih dulu menyapaku.
Katanya, “tak banyak yang berubah dari dirimu, mata hitam bulat dan senyum manis dengan lesung pipi itu masih sama.”
Sontak saja aku terdiam dan menoleh ke arah suara itu bersal. Aku terdiam dan tanpa aku sadari, mataku mulai berkaca-kaca. Mulutku hanya diam dan bibirku tersenyum tipis.
“Arkan?”, tanyaku padanya.
“Aku fikir kamu lupa padaku, aku ingin ngobrol banyak denganmu tapi setelah kita selesaikan semua tugas ini dulu ya”, jelas arkan sembari membantuku mengangkat barang-barang logistik di camp pengungsian.
Sudah dua hari aku menjadi seukarelawan di kampung itu, kebakaran hebat menghabisakan 2 desa dalam satu malam. Dan komunitas yang aku ikuti turut membantu para korban semaksimal mungkin. Aku mendapatkan tugas di bagian Logistic. Dan Arkan, aku tidak tahu bagaimana dia bisa ada disana bersama ku.
Setelah semua tugas ku tuntaskan, aku meminum secangkir air hangat sembari menikmati angin malam yang sendu di depan camp pengungsian. Wajah seorang anak terlihat sedang berupaya mengatasi trauma mendalam yang dialaminya. Terdengar pula keluh kesah beberapa pasang suami isteri yang berdiskusi dan kebingungan akan tinggal dimana mereka setelah ini. Aku berjalan perlahan menjauhi camp karena aku tak mampu melihatnya lebih lama lagi. Hati ku seolah teriris piasau belati ketika mendengarnya. Sangat sendu suasana pengungsian malam itu. Ku tatap pekat langit malam, tidak ada bintang yang menghiasinya dan hanya ada bulan sendiri saja.
“Apa kabar kamu, Na? sudah lama sekali kita tidak berjumpa. Aku merindukanmu, sungguh.”, suara Arkan terdengar begitu dekat. Dia sudah berada persis di belakangku rupanya.
Tanpa menoleh ke belakang, aku menjawab, “Baik, kamu apa kabar?”
“Seperti yang kamu lihat, aku sehat dan tumbuh dewasa. Dan seperti yang kamu katakan dulu, ingin memulai semuanya ketika kita dewasa. Kamu ingat?”, Tanya Arkan padaku.
Sekali lagi, pertanyaan dan kata-kata mengejutkan terlontar dari mulut Arkan. Dan aku masih tetap tidak ingin membalik badan untuk menatapnya. Karna air mataku mulai jatuh saat itu. Aku sangat merindukannya, tapi aku terlalu benci untuk mengatakannya. Suara langkah kaki mendekatiku, aku merasakan aroma tubuhnya.
“Maafkan aku yang tidak menepati janji untuk kembali sebelum kamu mencari. Aku terlalu sibuk memikirkan diriku sendiri, memantaskannya untukmu. Agar saat aku kembali, aku sudah dewasa seperti yang kamu mau”, Jelas Arkan tanpa henti. Kali ini, Arkan sudah berada persis di sampingku dan berdiri menatapku. “Jangan nangis, Na. Aku sudah disini.”
Sambil menyeka air mataku, aku memberanikan diri menatap kedua bola matanya. “Bagaimana bisa kamu ada disini?”, tanyaku sembari menahan emosi yang hampir tidak bisa ku kendalikan.
“Memang kamu butuh penjelasan itu?”, Tanya Arkan padaku.
Tanpa menjawab, aku berbalik badan hendak pergi meninggalkan Arkan.
“Kamu percaya takdir? Pikiranku bahkan sudah buntu, aku tidak tahu harus mencari kamu kemana lagi. Aku pasrah jika ternyata Tuhan tidak menjadikan kita satu. Aku pasrah bila akhirnya yang kudengar keluh kesahmu tentang rumah tanggamu bersama pria lain. Tapi, Tuhan memberi jawaban yang aku mau, aku bertemu kamu di tempat yang tidak pernah aku duga sebelumnya. Dan aku yakin, kamu belum milik siapapun saat ini.” Arkan memberi jawaban atas pertanyaanku, seolah ingin menghentikan langkah kaki ku agar tetap bersamanya.
“Syukurlah kalau tuhan masih mau menjawab doa orang sejahat kamu, Kan. Kamu jahat, kamu sadar itu?”, Ucapku.
“Hanya maaf yang bisa aku ucap, Na. Karena aku sadar aku tidak akan mampu memutar waktu.”, Jelasnya singkat.
“Arkan kamu tahu, aku selalu menunggu kamu. Di setiap aktifitas yang aku lakukan, sesibuk apapun itu. 13 tahun lamanya, kamu janji akan datang saat senja. Setiap hari, sepulang sekolah aku berlari ke atas rumah pohon kita dan berharap kamu ada disana. Dan aku masih menikmati senja sampai saat ini, dimanapun aku berada. Walau bukan di atas rumah pohon itu lagi.”, Jelasku sambil menahan air mata yang sudah menggenang. “Aku berbohong pada diriku sendiri, bahwa aku baik-baik saja dengan kesendirianku. Aku butuh kamu, Kan.”
Arkan memelukku erat. “Sekali lagi, maafin aku Na. Harusnya aku pamit. Tapi aku tidak mampu untuk melihat wajah kamu untuk terakhir kalinya.”, Ucap Arkan padaku.
Penantianku berakhir sudah. Kini aku sadari, bukan pria lain yang tak cocok denganku. Namun, aku yang telah menutup hati 13 tahun lamanya. Dulu aku memang belum mengenal cinta, tapi beranjak dewasa memang hanya ada satu nama di hatiku. Dialah Arkan, teman kecilku yang membuat aku jatuh cinta dengan senja dan dirinya pada waktu yang sama. Siapa sangka teman kecilku kini menjadi teman hidupku. TAMAT.
20 Januari 2018
25 Februari 2018
26 Maret 2018
6 April 2018
15 April 2018
29 Mei 2018
15 Juni 2018
19 Juni 2018
Meetup sama Amal, sekalian nemenin gue belanja :)














